Sabtu, 08 Oktober 2011

Lebih Dari Sekedar Agama

"Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat;semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus."

Kol 2:16-17


Pernah diceritakan tentang begitu banyaknya orang-orang yang merekomendasikan untuk berpindah agama mengikuti agama mayoritas pada negara dimana mereka berada. Alasannya bermacam-macam, namun menakutkan. Kekhawatiran akan dikucilkan, dipersulit, mengalami penindasan hingga terancamnya jiwa dan keselamatan diri sendiri dan keluarga, jika menganut agama minoritas.

Inilah yang terjadi di banyak negara. Agama seringkali berubah fungsi menjadi atribut yang penting bagi pergaulan, bagi kehidupan duniawi, pertemanan, pamor, kedudukan dan status sosial seseorang. Melalui agama juga banyak dari mereka menghakimi dan menindas satu sama lain. Atau juga pola pikir kebanyakan jemaat yang menganggap gerejanya adalah yang terbaik, cara beribadatnya yang terbaik, bentuk prosesinya terbaik, pendetanya lebih pintar ngomong, altarnya lebih keren, dan lain sebagainya.

Inilah sebuah bentuk yang dapat timbul, apabila kita mendasarkan keimanan hanya pada bentuk lahiriah duniawi saja. Kristiani bukan soal agama. Terlepas dari semua proses dan denominasi yang berbeda2, yang terpenting adalah hubungan pribadi kita dengan Tuhan.

Yang terpenting adalah percaya Yesus adalah juru selamat pribadi anda, hidup sesuai dengan keinginan Tuhan, selalu berupaya setiap saat menjadi biji mataNya, menjadi garam dan terang di dunia, dan membagi kasih kepada sesama seperti halnya anda dikasihi Tuhan. Label atau atribut apapun itu tidak berarti apa2 dalam hubungan kita dengan Allah.

Bukan atributnya yang terpenting, melainkan hubungan antara kita dengan Tuhan lah yang harus diutamakan.


Sumber : www.jawaban.com

Selasa, 04 Oktober 2011

Ibadah yang Membosankan

“Ayo kalian masuk ke ruang anak-anak sekolah minggu,” kata saya kepada Rere dan Adam, dua anak teman saya yang baru berusia 10 dan 8 tahun.

“Tidak ah, di sini saja!” jawab mereka pelan.

“Lho memang kenapa?”

“Di situ membosankan.”

Saya tertawa kecil. Jawaban yang polos tetapi jujur.

Kadang kita juga merasa bosan dengan apa yang namanya ibadah di gereja. Ada semacam rutinitas. Ada kejenuhan. Ada kekosongan.

Ada beberapa penyebab yang membuat ibadah terasa membosankan:

1. Diri sendiri.

Kebosanan bisa berasal dari diri sendiri. Kita mungkin tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk beribadah. Kita tidur terlalu larut di hari Sabtu dan menjadi malas bangun di hari Minggu. Kita tidak lagi menghormati hari Sabat sebagaimana diperintahkan oleh 10 Perintah Allah yang masih berlaku sampai saat ini. Hubungan kita dengan Allah mungkin sedang jauh karena dosa-dosa kita atau karena kelalaian dan kemalasan kita dalam memelihara Saat Teduh setiap hari. Maka apapun yang berbau rohani akan terasa membosankan bagi kita. Tidak ada kehidupan di dalam ibadah jika kita tidak bertobat.

2. Pengkhotbah yang membosankan.

Kadang ada khotbah-khotbah yang memang membuat kita mengantuk terutama jika tema-tema khotbah itu terlalu sederhana, sering kita dengar, kurang ilustrasi, dan tidak ada hal-hal baru di situ. Pengkhotbah juga bisa membuat kita mengantuk karena suara yang datar, intonasi yang monoton, atau tatapan mata yang tidak diarahkan ke jemaat. Para pengkhotbah perlu terus mengevaluasi cara dan isi khotbahnya.

3. Entertaining Worship (Ibadah yang Menghibur)

Penekanan yang berlebihan pada kemasan ibadah untuk menarik jemaat bisa menyebabkan kebosanan. Kemasan itu membuat manusia mengalami kepuasan karena bentuk-bentuk hiburan yang disediakan seperti musik, tarian, media, dekorasi, dan panggung yang mewah. Tetapi kepuasan itu bukan dari Allah, kepuasan itu semu dan sementara. Padahal kepuasan ibadah hanya bisa diberikan oleh Allah, dan jemaat perlu dilatih untuk mencari kepuasan itu pada Allah saja. Fokus diarahkan perlu pada Allah saja, bukan pada pernik-pernik ibadah. Hadirat Allah jauh lebih penting daripada entertainment dalam ibadah.

Akhirnya, kita perlu mengejar Allah dan kemuliaan-Nya lebih dari apapun baik pada saat ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada gereja yang sempurna. Tetapi pencarian, kehausan, dan pengejaran akan Allah akan mendatangkan kepuasan di dalam ketidaksempurnaan itu.


Sumber : panggilanhidup.net

Ibadah yang Membosankan

“Ayo kalian masuk ke ruang anak-anak sekolah minggu,” kata saya kepada Rere dan Adam, dua anak teman saya yang baru berusia 10 dan 8 tahun.

“Tidak ah, di sini saja!” jawab mereka pelan.

“Lho memang kenapa?”

“Di situ membosankan.”

Saya tertawa kecil. Jawaban yang polos tetapi jujur.

Kadang kita juga merasa bosan dengan apa yang namanya ibadah di gereja. Ada semacam rutinitas. Ada kejenuhan. Ada kekosongan.

Ada beberapa penyebab yang membuat ibadah terasa membosankan:

1. Diri sendiri.

Kebosanan bisa berasal dari diri sendiri. Kita mungkin tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk beribadah. Kita tidur terlalu larut di hari Sabtu dan menjadi malas bangun di hari Minggu. Kita tidak lagi menghormati hari Sabat sebagaimana diperintahkan oleh 10 Perintah Allah yang masih berlaku sampai saat ini. Hubungan kita dengan Allah mungkin sedang jauh karena dosa-dosa kita atau karena kelalaian dan kemalasan kita dalam memelihara Saat Teduh setiap hari. Maka apapun yang berbau rohani akan terasa membosankan bagi kita. Tidak ada kehidupan di dalam ibadah jika kita tidak bertobat.

2. Pengkhotbah yang membosankan.

Kadang ada khotbah-khotbah yang memang membuat kita mengantuk terutama jika tema-tema khotbah itu terlalu sederhana, sering kita dengar, kurang ilustrasi, dan tidak ada hal-hal baru di situ. Pengkhotbah juga bisa membuat kita mengantuk karena suara yang datar, intonasi yang monoton, atau tatapan mata yang tidak diarahkan ke jemaat. Para pengkhotbah perlu terus mengevaluasi cara dan isi khotbahnya.

3. Entertaining Worship (Ibadah yang Menghibur)

Penekanan yang berlebihan pada kemasan ibadah untuk menarik jemaat bisa menyebabkan kebosanan. Kemasan itu membuat manusia mengalami kepuasan karena bentuk-bentuk hiburan yang disediakan seperti musik, tarian, media, dekorasi, dan panggung yang mewah. Tetapi kepuasan itu bukan dari Allah, kepuasan itu semu dan sementara. Padahal kepuasan ibadah hanya bisa diberikan oleh Allah, dan jemaat perlu dilatih untuk mencari kepuasan itu pada Allah saja. Fokus diarahkan perlu pada Allah saja, bukan pada pernik-pernik ibadah. Hadirat Allah jauh lebih penting daripada entertainment dalam ibadah.

Akhirnya, kita perlu mengejar Allah dan kemuliaan-Nya lebih dari apapun baik pada saat ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada gereja yang sempurna. Tetapi pencarian, kehausan, dan pengejaran akan Allah akan mendatangkan kepuasan di dalam ketidaksempurnaan itu.


Sumber : www.jawaban.com